Takdir, Wilayah Ketuhanan dan Hamba

Saya tidak ingin membahas soal golongan jabariyah dan qadariyah atau ahlussunah waljamaah karena akan banyak pertentangan sedangkan adab hamba bukanlah menentang apa yang Allah turunkan. Adab hamba adalah menjalani syariat yang sudah diberikan. bukan mencari pembenaran namun menjalani kebenaran


“TAKDIR MANUSIA TELAH DITETAPKAN”
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ  أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. [رواه البخاري ومسلم]
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga  maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Adab manusia sebagai hamba dalam menyikapi takdir Allah

1. Takdir Rejeki
Allah menjamin rejeki (a. surat hud ayat 6) - Wilayah Ketuhanan

Manusia bertindak berdasarkan ilmu dan mencari/ menjemput rejeki (b. surat al jumuah ayat 10)- Wilayah Hamba

2. Takdir Ajal
Allah menenetukan waktu ajal (c. ali imran ayat 145 )- Wilayah ketuhanan
Manusia tidak perlu takut mati dalam berjihad (d. annisa ayat 78)- Wilayah hamba
Manusia tidak boleh membunuh diri (e. annisa ayat 29 ) - Wilayah hamba
Manusia perlu menjaga kesehatan (f. )  - Wilayah hamba

3. Takdir Amalan
Allah menuliskan amalan manusia/ tindakan manusia berdasarkan ilmunya (tahu yang akan terjadi dan tahu yang akan kita lakukan), bukan berdasarkan kehendak atau paksaan berbuat baik ataupun buruk (g)- Wilayah ketuhanan

Manusia berdoa agar dimudahkan dalam melakukan kebaikan dan agar susah melakukan keburukan(h) - Wilayah ketuhanan

Manusia bertindak mengikuti syariat (i)- wilayah hamba

4.  Takdir Syurga dan Neraka
Allah menulis syurga dan neraka diawal/azali berdasarkan ilmuNya (j)- Wilayah Ketuhanan

Manusia bertindak mencari kebaikan berdasarkan syariat (k. ar rad ayat 29) - Wilayah Hamba

Manusia bertindak menghindari keburukan diri berdasarkan syariat (l. ) - Wilayah hamba

Hal ini bukan berarti kita mengandalkan dan bergantung pada tindakan. karena hanya Allah tempat segala sesuatu bergantung karena hamba tidak boleh bergantung kepada tindakan atau apapun, hamba hanya boleh bergantung kepada Allah. Hal ini berarti kita sebagai manusia ( hamba ) memiliki adab yang tidak berusaha mencampuri wilayah ketuhanan

Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemilik, Penguasa) Semesta Alam, 
Sedangkan kita manusia adalah hamba yang sebaiknya jadi hamba yang beradab dan bertindaklah sebagai hamba yang beradab


Perdebatan tentang takdir ini sudah ada dari mulai zaman dahulu dan akan ada sampai hari kiamat untuk menguji hambanya yang tau adab sebagai hamba atau menjadikan hawa nafsu diri yang menjadikan diri sebagai tuhan memaasuki wilayah ketuhanan

Pertanyaan yang kurang beradab yang menjalani hidup dengan pembenaran bukan kebenaran
1. Mengapa manusia diuji  jika Allah sudah tahu jawabannya?
Allah Maha Mengetahui hasil akhir dari hasil ujian kepada hambaNya - Wilayah ketuhanan
Manusia diuji dan bertindaklah sebagai hamba yang diuji dengan cara berdoa dan bertindak agar mampu melakukan ujian sesuai syariat yang diturunkan - Wilayah hamba
2. Rejeki sudah ditetapkan Allah buat apa bekerja atau berbisnis?
Allah Maha Pemberi rejeki - Wilayah rabbaniyah/ ketuhanan
Manusia tugasnya bekerja atau berbisnis sesuai ilmu syariat - Wilayah kehambaan

3. Syurga dan neraka sudah ditetapkan Alloh buat apa beramal ?
Iya benar. berdasarkan ilmuNya, bukan berdasarkan kehendakNya. jika karena kehendak maka Allah berbuat dzalim dan Allah tidak mendzalimi hambaNya - Wilayah rabbaniyah/ ketuhanan
Manusia bertindak sesuai yang disyariatkan - Wilayah hamba


a. Surat Hud Ayat 6



۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ



Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

b. Surat Al Jumuah ayat 10


{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung

c. Surat Ali 'Imran Ayat 145
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلًا ۗ وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَنْ يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ


Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

d. Surat An-Nisa' Ayat 78
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِنْدِكَ ۚ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا


Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
e. Surat An-Nisa' Ayat 29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

k. Surat Ar-Ra’d Ayat 29
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ


Orang-orang yang beriman dan beramal saleh (bertindak dalam kebaikan yang sesuai syariat. penulis), bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Allah adalah Rabb (Pencipta, Pemilik, Penguasa) Semesta Alam
Sedangkan kita manusia adalah hamba jadi beradab dan bertindaklah sebagai hamba
Jika hamba bertindak sebagai rabb maka jawaban yang tepat untuk kita adalah
Surat Al-Jasiyah Ayat 23
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ


Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? 

Pilihannya ada dikita sendiri, menjadi hamba yang beradab atau menjadikan hawa nafsu diri sebagai tuhan (memasuki wilayah ketuhanan)

Note :
Artikel diatas adalah untuk saya pribadi, jika memang bermanfaat maka boleh diterapkan. Jika tidak bermanfaat teman teman bisa mempelajarinya dari ulama yang memang ahli dibidangnya

  ©Lembaran Internet - Todos os direitos reservados.

Template Modifikasi Abdillah Paytren | Topo